Selasa, 02 Juli 2013
Super Hero "Nyaman"
Setiap orang pasti paham arti kata tersebut, dan pastinya menginginkan berada dalam posisi atau kondisi tersebut.
Masalahnya "Nyaman" dalam rumus filusufisnya berbanding terbalik dengan Super hero, dalam realita super hero senantiasa dalam kondisi yang serba tidak nyaman, tidak beruntung, tersiksa atau "rekoso" dalam bahasa jawanya.
Simaklah kisah Hanuman yang harus ikhlas terbakar hanya untuk jadi super heronya pasangan Rama-Shinta atau kisah Nabi Daud yang harus bertarung dengan raksasa goliath untuk jadi pahlawan bagi kaumnya, dan jangan lupakan heroiknya masyarakat Bandung yang membakar kotanya sendiri untuk Merdeka.
Kalau ingin nyaman jangan menginginkan predikat super hero atau pahlawan melekat pada diri kita sebaliknya kalu ingin jadi super hero haruslah siap berada dalam kondisi yang serba tidak nyaman.
Walaupun hanya sekedar jadi super hero untuk diri sendiri dan keluarga kecil kita, bersiaplah untuk ketidak nyamanan yang akan kita hadapi.
Jadi...pilihan tetap ada pada anda sendiri, walaupun Sunnatullah pastilah kita akan bertemu juga dengan ketidak nyamanan.
Wallahu'alam
Kamis, 10 Februari 2011
Tips Memotret Tanpa Lampu Blitz
Nah, untuk mengurangi resiko diatas sebenarnya dapat diakali dengan beberapa trik mengoptimalkan kamera digital kita – merek apapun, model apapun. Jamaknya peralatan elektronika lainnya, semakin banyak komponen yang bekerja maka daya yang dibutuhkan juga semakin besar. Dalam artikel kali ini kita akan mencoba mengurangi penggunaan lampu blitz bawaan kamera. Agak sedikit ribet memang, tapi bagi suka ngotak-atik kameranya mungkin bisa nambah skill fotografi kita. Lets cekidot;
1. Atur kamera pada mode manual dan jangan lupa matikan lampu blitz kemudian ambil satu foto dan lihat hasilnya. Kalau hasilnya gelap bin suram itu alamat kita kekurangan cahaya yang berhasil direkam oleh sensor kamera kita.
2. Coba naikkan ASA atau ISO kamera kita, biasanya kamera model sekarang mempunyai rentang ISO yang lumayan, mulai 50 sampai diatas 1600, kalau tipe enthusias sama DSLR bisa lebih besar lagi. Teorinya semakin tinggi ISO karema kita, maka kamera semakin peka terhadap cahaya, aturannya mudah untuk foto outdoor dengan banyak cahaya pakai iso rendah (25 sampai 200), outdoor minim cahaya pakai ISO sedang (400 sampai 800), klo didalam ruangan yang gelap bisa makai iso tinggi (diatas 1600). Catatanya adalah semakin tinggi ISO yang keta pakai besar kemungkinan foto kita makin blur.
ni foto pakai ISO 50, shutter speed 1/168
ni foto pakai ISO 800, shutter speed 1/168, terlihat lebih terang bro...
3. Kemudian coba ambil satu gambar lagi, klo masih gelap bin suram coba pakai jurus kedua, naikkan nilai kompensasi ev (exposure value), biasanya ada di menu kamera dan satu paket dengan settingan ISO. Naikkan nilainya 1 step keatas kemudian coba lagi ambil foto, kalau masih sama naikkan terus sampai gambarnya cukup terang.
4. Kalau jurus tersebut masih belum bisa, pakai yang lebih sulit lagi yaitu turunkan kecepatan bukaan lensa kamera (shutter speed) cuman aturannya klo kita mau makai speed rendah disarankan kamera jangan dipegang sama tangan kita, mending kita suruh si TRIPOD untuk menggantikan kita, masalahnya lagi lihat-lihat juga objek foto kita klo yang difoto lagi jingkrak-jingkrak ya jangan pakai speed rendah, nanti hasil fotonya malah mirip foto penampakan karena muncul siluet. Trik lainnya adalah gunakan fasilitas foto tunda atau timmer untuk menghindari kamera goyang akibat kita mencet tombol shutter kamera.
nini foto pake ISO 50, Shutter Speed 1/25 tanpa tripod jadi hasilnya kaya' penampakan
klo kucing ini pake ISO 80 Shutter Speed 1/80 dan tanpa goyang
5. Masih mentok lagi coba atur aperture kamera atau bukaan kamera, cuman masalahnya tidak semua kamera digital model point & shoot punya menu settingan ini. Aperture adalah lamanya lensa kamera terbuka untuk menangkap cahaya sehingga bisa direkam oleh sensor kamera. Semakin besar bukaannya dijamin cahaya yang masuk juga banyak jadi foto bisa terang atau bahkan kalu kelebihan cahaya fotonya jadi putih bersih lho :)
Oke, cukup sekian tipsnya, syukur ada yang mau ngoreksi atau nambahi, nuwun and met menjebret aja.
Senin, 01 November 2010
Mbaaah Marijaaaaan......!
Dengan menafikkan kontroversi tentang beliau, saya sedikit menggaris bawahi sikap setia beliau terhadap tugas dari HB IX. Menurut logika, seharusnya seorang raja/pemimpin selalu menginginkan yang terbaik untuk rakyatnya, termasuk kepada pada prajuritnya yang pada dasarnya memang disiapkan untuk mati.
Yang terjadi kepada sang penunggu gunung merapi memang sedikit "Out of the track", berpendirian setia terhadap sang raja tetapi membahayakan diri sendiri, padahal kalau sang raja masih hidup dan tahu sikap ini pastilah beliau melarangnya, mungkin lho!
Pola pikir ini sangat orisinal sekali, sangat Njawani sekali, kekolotan yang dibalut patriotik den dibumbui kesetian dan taklid. Sikap ini masih ada dalam kultur kita.
Mudah-mudahan kita tidak berkedok tugas ketika melakukan berbagai kesalahan dan penyimpangan dari nilai rasionalitas dan hukum tuhan.
